Pantaskah seseorang dihakimi atas cintanya kepada orang lain yang tak seagama dengannya, bahkan jika cintanya membuatnya semakin dekat dgn Tuhan yg selama ini dia sanjung dan puji? Lebih hinakah dirinya dibanding mereka yg bercumbu atas nama satu Tokoh yg mereka sembah? Jika ya, maka baiklah kita menuhankan orang-orang yg memantaskan dirinya menghakimi, karena begitu mulianya mereka sehingga mereka dapat melihat iman kita pribadi lepas pribadi berdasarkan mata mereka 🙂

Advertisements

Good afternoon, fellas! It’s 26°C here. Sweat enough haha. Well, I have a short story today when my friends and I come to join the Writing 4 first class. I can fully express the feeling when I join the class. Exciting and though enough at the same time. Exciting because it is the time for me to prepare my final project as the S1 student but of course we all know that it is not as simple as write a poem, right? So my heart beats a litlle bit faster when Mrs. Machmud read the syllabus. Ohhh time really flies so fast. Feels like just a week ago I come to the university as a freshman and now Im on my way to get my S.Pd., and I love the idea to graduate in the appropriate time so I know this when I sit on Mrs. Machmud first class. She motivates me good enough to change my habit. There is no excuse if I come late and miss the class for 3 times which means I must say goodbye to the old me if I want to take this seriously. She also tells us to do our assignment ASAP and never stop write and write and write and write because she says, “the good writing is the fourth draft”. Oh I will become the new me of course because at the past I used to be student who just do the assignment close to the due date and sometimes it ends sadly haha. So lets rock with this proposal. Im on my way, skripsi. Im really on my way.

Ps. If Mrs. Machmud read this, I really looking forward for you to teach us full in Research subject if it possible. 😁

Ngeluh?

Ayolah, jangan keseringan ngeluh apalagi tentang sesuatu yg ga mungkin kamu ubah karna berhubungan dengan personaliti orang lain. Buang2 waktumu. Parahnya lagi, buang2 waktuku juga. Aku bukan tempat sampah yang bisa terus dicekcoki segala sampah2 yang sejujurnya tidak mau aku tahu bahkan dengar sama sekali. Apa diamku selama ini tidak cukup menandakan aku muak dengan semua celotehmu? Bukan karena aku kurang di ajar, tapi karena aku mencoba berpikir dewasa yang mana sebenarnya itulah porsimu, dimana aku tidak mau mencampuri hal dan perihal orang lain yang tentu saja tidak ada faedahnya bagiku. Aku bukanlah kurang didikan, tapi aku hanya ingin bebas tanpa memikirkan orang2 yang juga tidak membuang2 waktunya untuk menhurusiku. So, please, just stop all of your pout. I’m sick of it.

Malam ini kembali dikagetkan dgn sebuah berita yang sangat mengherankan. Ya, baru tau kalo di event CCU kemaren ternyata ada seorang pria yg menurut salah satu sumber yg menceritakan kisah ini, berasal dr SMA yg sama dgnku dan si pencerita yg tiba2 dtg dan minta temenku ini nganter dia ke nomor kursinya tapi dasar temenku ini udah capek binti males gitu krn suasana juga udah gelap, temenku gamau anterin. Jadilah cowok ini berdiri bareng temenku di bagian belakang kursi penonton yg berjumlah seribu itu. Dia selalu tanya, yg mana kelasnya Ebby (re:aku). Well, pas tiba giliran kelasku tampil, temenku ini langsung bilang ke dia, nah ini kelasnya Ebby. Kata temenku sih ya, si cowok ini senyam senyum bahkan sering ketawa pas kelasku tampil. Entahlah dia ngetawain aku atau siapa atau apa. Yg bikin aku heran itu pas temenku bilang, kalo si cowok ini tau dgn pasti aku tuh yg mana. Padahal nih ya, semua orang juga bilang mereka ga kenalin muka kita satu per satu lagi pas udah tampil karena kostum kita yg seragam per scenenya. Ya aneh aja gitu, dalam jarak pandang yg cukup jauh (banget) buat aku yg matanya udah payah banget ini si cowok masih kenal betul aku. Ditambah lagi waktu temenku nanya kok dia yakin banget kalo itu aku. “Ya aku tau gerakan-gerakannya Ebby.” we o we aku sih percaya ga percaya aja dibuatnya. Menurut temenku, dia pengen banget liat aku tampil karena semenjak lulus SMA (3 tahun silam) dia ga pernah liat aku lagi. Temenku pun dengan basa-basi (menjijikkan) pun bertanya kenapa ga dari dulu aja pas masih SMA gitu dia ngaku tapi katanya takut hehehe.
Well, aku sampe sekarang masih sering bingung. Apasih lebihku sampai banyak yg sering deketin aku gitu ya? Aku ga keGEERan nih ya, tapi emang baru beberapa hari belakangan ini aku menyelesaikan masalah dgn beberapa pria yg mendekatiku. Ada juga barisan para mantan yg masih mengharapkan hadirku di hidup mereka sih katanya tapi aku ga mau lagi krn emang terhalang sesuatu yg sakral (IYKWIM). Well, rata-rata mereka bilang aku beda dengan sebagian besar cewek-cewek zaman sekarang. Yah padahal aku mah merasa sama aja gitu ya hehe tapi mungkin aku lebih dapat mengontrol diri, emosi, dan gejolak darah muda yg sering mendidih layaknya vampir ini hahaha. Walaupun aku banyakan bingungnya daripada bersyukurnya karena mereka-mereka ini, aku jadi sadar sekarang. Kehadiran orang-orang seperti mereka ga pantas buat kita bangga. Bangga karena cantik? Well aku ga cantik-cantik amat. Standar lah 😜. Pinter? Yaelah gada manusia yg bodoh kan ya? Kaya? Ya engga. Kaya hati sih iya hehehe. Aku cuman bisa bagikan ke teman-teman semua kalo ada seseorang bahkan lebih yg kagum kepada kita, jadikan itu motivasi. Motivasi untuk terus menjadi lebih baik.  Jujur aja, karena banyak yg sering deketin aku, aku jadi berusaha untuk berhati-hati dalam segala hal. Bukan karena kita sedang menjadi diri kita yg palsu tapi karena kita sadar, ada beberapa pasang mata yg selalu memperhatikan kita. Jika kita bertindak dgn keliru, beberapa pasang mata ini bisa saja meniru kita karena tanpa kita sadari, kita adalah ‘model’bagi mereka. Aku senang dekali dgn sebuah penggalan di Alkitab yg berkata:”tetapi jagalah agar kebebasanmu ini tidak menjadi batu sandungan bagi mereka yg lemah”. Kita mungkin sedang tidak menjadi trensetter, ataupun seorang guru tapi bagi seseorang atau mungkin lebih, kita lebih dari ‘sesuatu’. Teruslah berhati-hati terutama dalam masa muda kita sehingga ketika ada beberapa pasang mata yg mengawasi kita, mereka diberkati, dan bukan tersandung. ❤

Baru aja setel playlist utk pengantar tidur, tiba2 nama dan fotonya muncul di layar hape. Yap, nelpon lagi dia. Lama banget mikir, sampe akhirnya aku milih menyentuh tulisan yg warnanya ijo tapi ngomongnya sinis. “ngapain telpon aku?”

Ya, kamu. Ngapain telpon aku lagi? Seneng banget ya tiap nelpon pasti telponnya diangkat? Seneng ya kalo udah diangkat, kamu bisa nanyain segala macam ttg aku disini, trus kamu mulai curhat ttg keseharian kamu disana yg sebenarnya sdh sangat membosankan dan apalagi?

Well, i miss ur voice but i never wish u call me just to know bout me. Pls notice this. Call me only if u have smth important to tell, bcz we’re not longer a special partner. We only friends and ya, i really care if my friend ask me to lend a hand but sorry to say, im not interested with a nonsense telling by my friend, in this case u. Ok?

Cantik itu…

Kamu mungkin putih, bening, dan terawat tapi selalu bersembunyi dibalik penutup apapun itu untuk mencegah kulitmu beranjak coklat. Tapi, tidakkah lebih bahagia mereka yg cantik, wajahnya kemerah-merahan bahkan dikatakan ‘hangus’ karena kaki mereka tidak berhenti untuk menapak lika-liku setapak alam? Sesungguhnya, cantik itu bukan karena kau merawat dan menyembunyikan wajahmu agar tidak dinodai mentari. Tapi cantik itu karena bahagia dan bebas melanglang buana tanpa harus malu dengan sang mentari.  Selamat pagi, wanita Indonesia. Let your shine out! 🌞